Sabtu, 29 Januari 2011

puisi

Jeritan palestina
 

Kicauan burung bersahutan
Menyambut merekahnya sang mentari pagi
Damai,tentram,penuh persahabatan
Di negri para nabi......

Mentari beranjak d pertengahan peredaran
Hari belum begitu siang.....
Tika para utusan bergantian
Datng meluruskan peradaban....

Waktu terus berjalan
Petangpun mulai datang membayang
Di iringi suara jerita,tangisa,kebencian yg mendalam....
Kini semuanya telah berubah sejak...
kaki zionis yahudi d tancapkan....
Kebringisan menghantui
Pembunuhan disana-sini...,,
D balik reruntuhan rudal...
Tampak timbunan kerngka manusia yg tak berdosa.....,,,

Dimana kita sekarang......???
semangat jihat yang dulu berkumandang....,,
Kita bebaskan kehormatan...
Dari cengcraman hinanya binatang para zionis laknatillah.....,,

Matahari terus beranjak...,,
Meninggalkan cahaya menuju kegelapan....,,
Mari kita jemput mentari esok pagi...,
Dengan semngat berkobar tinggi....,,,



Beloved palestine......!!


kau bayangkan yg sedang berteriak terisak itu kau....,,
bkan dia bkan juga mereka tpi kau..,
di kelilingi oleh syuhada kerabat kau …,
kenapa kau masih saja tetap diam.......
mana sesame muslim kita bersaudara seperti yang slalu kau nyanyikan????????

*penulis alumni dayah jeumala amal

catatan dari cairo

Sejarah Bengkel Tulis Jeumala
 Oleh Azmi Abubakar Hamzah

Sebelumnya kami memohon maaf karena telah lancang melangkahi senior-senor kami sendiri. Kami merasa kalau merekalah yang lebih berhak sebenarnya menulis tentang ini. Tapi di suatu hari, penghujung tahun 2010 sebuah pesan singkat masuk. Adik kami sekaligus guru kami, Adhia Rizki Ananda meminta sebuah tulisan tentang sejarah lahirnya bengkel tulis.

Pada posisi ini kami bukanlah siapa-siapa, tetapi setelah melihat semangat luar biasa dari adik-adik kami dalam menulis, kami merasa terpicu dan tergerak untuk segera menyelesaikan tulisan tersebut. Walaupun sedikit terlambat, karena persiapan ujian musim dingin di Al-Azhar yang harus kami ikuti.

Tak lupa pada kesempatan ini, kami memohon do’a dari para ustaz, abang-abang dan juga kepada adik-adik semua, semoga tahun ini bisa memperoleh nilai yang lebih bagus dari tahun kemarin dan semoga Allah mempermudah disetiap urusan kita, amin.

Bengkel Tulis Jeumala menurut hemat kami merupakan bagian terpenting dari unit pengembangan bakat yang ada di Jeumala. Penanggung jawab waktu itu adalah ustaz kita Mahmud Eko. Kami rasa sebelum terbentuknya bengkel tulis Jeumala, kegiatan menulis telah lama dimainkan oleh para pendahulu kami, baik lewat penulisan cerpen maupun artikel. Hanya saja masa itu belum ada sebuah komunitas seformal bengkel tulis.

Ala kulli hal, kami menyambut gembira dengan lahirnya bengkel tulis tersebut. Betapa tidak, dengan adanya bengkel tulis kita memudahkan kita bersharing ide dengan pembimbing maupun dengan sesama komunitas bengkel. Begitu juga kita bisa berhubungan lebih akrab dengan komunitas penulis senior yang diwakili oleh FLP dan LAPENA

Pertemuan Pertama
Bangunan itu terlihat anggun dipandang, dengan berselimut rumbia, membuatnya selalu nyaman disiang hari. Letaknya yang strategis menjadikan setiap penghuni bisa betah berlama-lama. Sedang disampingnya ada pohon kelapa melambai-lambai kepada setiap tetamu dayah Jeumala Amal.

Seperti nama yang dilaqabkan kepadanya, ‘meusaneuet” bale ini memang benar-benar meusaneuet.  Disinilah para personil kepunulisan dayah Jeumala Amal tempatnya bengkel tulis berkumpul untuk kali pertama. Sebuah komunitas yang didirikan atas ide ustazah Oli Novedi Santi, guru sekaligus karyawan pada kantor keuangan dayah Jeum ala Amal masa itu.

Dengan penuh semangat beliau membimbing generasi pertama, tepatnya pada tahun 2006 sebelum pelantikan OSMID berlangsung. Hemat kami setiap malam Sabtu adalah jadwal berkumpul rutin. Waktu itu para anggota terus saja bertambah disetiap pekan, sebagian besar didominasi oleh kalangan perempuan. Manariknya laki-laki  cuma berjumlah 3 orang saja.

Kami sempat membuat rapat mengenai kinerja masing-masing bagian, tentunya dalam lingkup kecil sesama komunitas bengkel. Satu program besar yang berhasil kami jalankan waktu itu adalah perlombaan baca puisi dan cerpen, pesertanya seluruh murid dayah Jeumala Amal. Keberhasilan acara tersebut tak terlepas dari kerja sama masing-masing partner dan peran besar dari ustazah Oli sebagai pembimbing, sekaligus dewan juri.

Kegiatan rutin lainnya yang kami lakukan adalah melakukan bedah cerpen dan puisi bersama-sama. Dimana setiap anggota wajib membuat sebuah karya, entah itu cerpen atau puisi. Dalam hal ini peran besar ustaz Eko dan ustaz Hanafiah juga tak boleh dinafikan. Ditengah berjalannya kegiatan komunitas bengkel, kami mendapat kabar kalau ustazah Oli akan segera meninggalkan dayah, disebabkan oleh satu dan lain hal.

Terus terang kami sangat merasa kehilangan.  Banyak pengalaman, kesan dan pelajaran baru yang kami dapatkan dari ustazah Oli dalam mewarnai kiprah bengkel tulis Jeumala. Bersama ustazah pula, kami juga sempat mengikuti latihan kepenulisan yang dilaksanakan oleh FLP cabang Sigli.

Setelah kepergian ustazah Oli, perjuangan bengkel tulis berada dibawah kendali ustaz Eko dan ustaz Hanafiah, kegiatan masih seperti biasa waktu itu. Hingga datang ustazah Ela dari Jakarta, yang dulunya pernah kuliah di Mesir. Kedatangan beliau menambah semarak komunitas bengkel tulis ini. waktu itu anggota tak lagi dari murid kelas VI, tapi telah menjalar pada murid kelas V sampai kelas VI.

Malah mereka  lebih aktif dari pada kami. Secara perlahan kami  meninggalkan arena bengkel, disebabkan kondisi yang menuntut kami untuk berkosentrasi pada UAN yang semakin dekat menghitung hari. Mereka para adik-adik setelah kami terus melanjutkan perjuangan itu, hingga bertambah ramai dan semakin berkembang, sampai kami meninggalkan Jeumala pertengahan 2007.

Ala kulli hal, kami bangga kepada adik-adik kami yang dengan penuh semangat melanjutkan perjuangan tersebut. Mereka telah berhasil mengembangkannya lebih maju dari kami dahulu. Anggotapun semakin banyak dengan berbagai macam agenda kepenulisan didalamnya.

Ucapan terima kasih kami yang sebesar-besarnya kepada ustazah Oli, kepada ustaz Eko, ustaz Hanafiah juga kepada semua ustaz dan ustazah beserta kawan-kawan seperjuangan juga adik-adik semua yang turut serta membimbing kami, menyemangati kami, menjadikan kami untuk bisa menulis. Alfu syukrin wa jazakumullah. Tanpa mereka mungkin  kami bukanlah siapa-siapa dan tanpa mereka juga tulisan ini takkan pernah jadi. Semoga tuhan selalu melindungi guru-guru kami.

Akhirnya bengkel tulis Jeumala adalah aset terbesar yang dimiliki oleh murid Jeumala untuk selamanya. Kami berharap agar adik-adik kami di dayah bisa terus melejitkan  karya-karyanya. Sehingga akan lahir penulis-penulis handal dari lumbung bengkel tulis Jeumala, yang mampu menjadikan tulisannya sebagai dakwah bil kalam dan ikut serta   mewarnai tanah Aceh nantinya.

Kami yakin akan hal itu, kami yakin adik-adik kami nantinya akan bisa melahirkan tulisan dalam wujud novel seperti guru kami Adhia Rizki Ananda. Bisa melahirkan banyak artikel, juga puisi-puisi yang siap menghiasi lembar media di Aceh maupun tingkat nasional, sehingga kami yang bodoh ini bisa belajar kembali dari mereka adik-adik kami para penulis. Keep Writing…!
Dari negeri Para Nabi, Cairo 25 januari 2011

Senin, 03 Januari 2011

sastra

MALAIKAT MAUT BERBAJU LORENG
Peluru  buram itu terus menghantam keningku yang di banjiri keringat dingin , tak pernah terbisik dalam kawah jiwaku menyaksikan sang baju  loreng menondong  pisol canggihnya kearahku,  jantung berkejaran dengan hati seolah-olah bercucuran dan membasahi seluruh tubuhku
“heh anak lembu,  dimana manusia harimau itu?”
 Suara tak sedap itu keluar dari manusia botak yang memakai  baju loraeng
Nggak. . .tau. . . sa….ya… pak!”
Tak terasa cairan  panas  membasahi rokku.
Dasar lho setan ,  manusia harimau saja tak tau,lembu macam mana lho?”
Suara petir itu terus menghantam gendang telingaku
“dasar lho dinasaurus!”  desahku
Bajingan… masih berani menentang,  rasakan ini.
Dhum . . .dadaku berkencang dan dadaku meledak.
“a . . .a . . .a …!”

Adek…dek….bangun…sudah pagi!”
Kulihat sekelilingku semuanya telah berubah.  Tak ada lagi si baju loreng yang sedari tadi menghantuiku.  Kini yang terlihat adalah abangku yang tengah menyibak tirai kamarku yang menghambat sinar tata surya itu masuk ke kamarku.  Kuusap mataku berkali-kali.
“masihkah bermimpikah aku?”  bisikku dalam hati.
Aku terjaga,  dengan peluh berbutir-butir membanjiri pori-poriku untuk yang entah keberapa kali mimpi itu  mennyinggahi dunia mayaku.  Mengabarkan sinyal bahwa, 
“MANUSIA BERBAJU LORENG”    sang pembunuh.
“tidak. . .!”  aku berteriak,  mencoba memaknai bunga tidur yang berulang-ulang menitip pesan,  tapi mungkinkah manusia berbaju loreng adalah keangkuhan bagi kejahatan ataukah manusia berbaju loreng adalah langkah-langkah gagah yang memperjuangkan bumi yang dinamakan pahlawan?”  atau manusia loreng adalah moster di film power rangers?”  aneh!”  sungguh  misteri mimpi yang terus mencekam ketentramanku.
***
Kubuka  pelan jendela kamarku,  sela mendengar kicauan burung dara yang marimba haru,  dan terlihat air mengembun di pucuk delima.
“dhak . . . dhuk . . .
Aku tersentak,  kulihat segerombolan orang berbaju lorong memasuki kebun yang ada disamping rumahku.
Ya. . . aku tinggal di Desa Adan Baroh yang terletak di lereng  pergunungan di kabupaten pidie jaya.
“bang!” lihatlah!”
Siapa sekelompok orang yang berjalan menuju kedalam kebun?”  tanyaku penasaran pada bang zaki yang sibuk mangamati schedule yang tertempel di dinding.
“astagfirullah hal azim”, itu kan tentara .  sahutnya.
Dan tak terasa tubuhnya bergetar hingga buku-buku yang tadinya ia pegang erat,  pelahan-lahan jatuh  satu persatu.
“mak!” . . .tentara datang,  ujar bang zaki sambil berlari menuju ke dapur.
Mak tersentak  dibuatnya,  hingga telur yang dipegang jatuh berceceran.
Ibu kelihatan sangat ketakutan .
Kucoba  mengintip lewat cela-celah kecil jendela,  tapi mak melarangku,  ku beranikan diri untuk keluar dan memarahi tentara yang asyik menembak tumbuh-tumbuhan itu,  tapi tiba-tiba keberanianku redup begitu saja. Ketika aku mendengar suara senjata  AK 47.
“TIARAP. . . !”  teriak bang zaki.
Teasa jantungku menerawang di langit-langit rumah dan berloncatan mengejar darah yang mendahului bilik dan serambi kanan jantung.
Sekarang aku berada di bawah kolom meja makan,  sedangkan mak dan bang zaki  sembunyi di belakang pintu kamar belakang.
Aku mandamar penyebab di hempaskan  bunyi termbakan itu walaupun keberanianku hanya sisa secuil electron,  aku melawan ketakutan. Dan mulai merajut keberanian,  ah. . .aku gak boleh takut pada manusa berbaju loreng itu dan senjata angkuhnya.  Toh Allah maha kuat dan maha melindungi hamba-hamba-Nya.  Allah bisa mengalahkan kesombongan siluman dinasaurus itu. 
Akhirnya,  kubangkit dari keterpurukan dan melangkah pelan-pelan menuju jendela.
***
“Hei…kejar!”
Suara itu terdengar darisalah satu anggota berbaju loreng , 
“jangan biarkan manusia monyet itu lolos dari  incaran kita!”
Suara keras kenbali mencincang telingaku,  ingin aku membungkam jerit dan mencegah  kejaran mereka,  tapi, apa dayaku, mulutku terkunci karena kekhawatiran ,  aku hanya bisa berdoa,  agar mereka mendapat hidayah atas perbuatan mereka
“dhum. . .  dhum. . .dhum. . .!”
Suara itu terdengar keras di sela perpohonan.  Aku tak tau untuk siapa todongan itu ditujukan, aku hanya  menjadi penonton setia dibalik pentas misteri.
“dek na. . .tiarap!”
Ujar bang zaki sedari merangkul  tubuh mungilku.  Tak kusadari cucuran  keringat dingin menyapa akasia ketakutanku. Suara  teror itu terus   menghantui ketentramanku.  Tak sempat terhitung olehku,  berapa kaili mereka melepaskan teror senjatanya
“mak. . .gubuk di kebun sebelah udah hancur ditembak om tentara” ,  aku mulai membuka suara sila mengintip melalui celah-celah batu bata dinding.
“astagfirullah nak. . .,  jangan ngintip-ngintip,  nanti om-om itu menembak rumah kita!”  kata mak sedari mengelus  dadanya.
Makku memang lemah  lemah jantung, tiap kali ledakan senjata jantungnya kambuh.
Walau di tengah cengkraman perang,  aku  harus berdoa supaya mak baik-baik saja.
***
Hatiku membungkam jerit seolah-olah langiy  akan runtuh dan membajiri  bumi berdarah ini.
Kata-kata bualan  terus menyedot telingaku,  aku tetap bersikeras menyaksikan manusia dinasaurus yang sedang berteriak lantang sambil menikam dua tubuh laki-laki malang itu.
“mati kau siluman harimau. Telah lama  ingin kucincang kulit perkasamu!” ,  ujar si hitam  pekat sambil  menondong senjatanya ke dahi lelaki itu.dan Terlihat  rona ketakutan pada wajahnya yang sudah mulai keriput.
Aku menangis sedari memanggil mak.
Makpun merangkulku  sela mengintip apa yang terjadi   di luar sana.
“nyak . . .   soe  yang di poh  leu awak tentra?”.
Tanya mak pada bang zaki dengan nada serak.
“hana loen tusoe mak,   jawab bang  zaki.
Sekarang kami hanya menyaksikan performance manusia berbaju loreng yang sesuka hati menyiksa dua lelaki itu.
Dari kejauhan aku melihat jemari kakinya  diiris dengan silet,  lehernya digorok,   layak seorang tukang kayu mensinsau perpohonan,  sedangkan  seorang laki-laki yang berada disampingnya,  di sepak kemaluannya dan ditinju perutnya hingga keluar air dari mulutnya,  lirih tangisnya mengguncang dedaunan.
Huft. . .apa daya mereka?”. 
            Pagi itu,  tak ada  satu orangpun menyaksikan kekerasa yang mereka buat,  jagat raya menjadi saksi atas kejahilan manusia tak beradab itu,  warna darah yang mengalir adalah saksi atas semuanya,  malaikat mulai mencatat kenistaan yang mereka lakoni,  bumipun meraung,  tak sanggup perutnya memapah mayat yang mati berdarah. 
Terlihat olehku,  elang mengitari perbuatan angkuh mereka ,  seketika elang itu terbang jauh,  tak hirau bumi semakin rusuh,  rerumputan tak  kuat lagi menggoyang jeritannya,  tubuhnya terbanjiri  dengan tumpahan darah yang tak henti-henti,  langit meredup gelap. Cahaya buram kembali menyelimutinya.
Terdengar ibu  bershalawat dan mengucapkan istigfar serta tahlil .
***
Gerombolan tentara itu pergi meninggalkan mayat yang tersayat kesakitan,  tak ada  satupun berkas yang merek tinggalkan,  mereka melangkah tertatih menyusuri perdesaan dan memburu maut.
“huft. .mereka sungguh kejam,  kelekuannya persis seperti gajah  yang seenaknya menendang gubukk reot dan menginjak  tanaman.
“ya Allah. . .dimana hati nurani mereka?”.
Mereka rela merenggut nyawa  dan kebahagiaan manusia,
“apakah mereka pantas di katakan  MANUSIA?”.gumanku dalam hati sambil memandang dua mayat yang tak berdaya itu.
 ***
 pagi yang tidak bersemangat,  tak biasanya keadaan mencekam seperti itu.
Orang kampong berlarian dari rumahnya  menuju tempat kejadian itu. Mereka saling bertanya  tentang kejadian itu,    dengan suasana tegang,  penduduk langsung mengangkat  mayat yang tergeletak di sawah menuju trotoar jalan.  Tak ada satupun orang berani menyalahkan satu sama lain.  Mereka hanya pasrah kepada sang penguasa segala latar belakang kehidupan dan pengatur sambungan dari fonemena kehidupan.
            Aku mulai memaknai satu persatu celah kejadian.  Pada pagi itulah,  pertama kalinya aku melihat pembunuhan  yang terus menikam pikiran sehatku.
            Hari itu  aku bolos sekolah,  aku adalah seorang siswa SD kelas lV yang masih buta dari kekejaman manusia,  awalnya aku mengira manusia berbaju loreng itu adalah  pahlawan dunia,  padahal itu semua kebohongan belaka ,  mereka adalah si malaikat maut  yang berbaju loreng dan dilaknati Allah.

LOVE YOU DJA
ULLIA













l